Parekan Buduh Dalam Pementasan Drama Gong Bali (Perspektif Estetika Humor)

  • I Gede Bagus Wira Pratama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
  • Ni Gusti Ayu Agung Nerawati Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
  • I Nyoman Piartha Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Kata Kunci: Parekan Buduh, Drama Gong, Estetika Humor

Abstrak

Bentuk struktur pementasan drama gong selalu dikaitkan dengan gending iringan pertunjukan, yaitu tabuh petegak, pepeson, pasiatan, dan terakhir pamuput. Dilanjutkan dengan Prolog merupakan sebuah panyembrama atau kata-kata pendahuluan dalam mengawali lakon drama kemudian baru dimulai dengan Pepeson  merupakan pertanda tampilnya seseorang atau beberapa tokoh dalam memulai adegan per adegan di tiap-tiap babak. Ada adegan pepeson untuk petangkilan, adegan meseneng-senengan adegan roman, adegan pasiatan, dan adegan pamuput. Namun menurut para narasumber yang sudah dijelaskan diatas struktur pementasan drama gong tidak menentu tergantung lakon cerita yang dibawakan namun tetap menjaga yang Namanya pakem dari drama gong Bali.

Karakteristik penokohan punakawan buduh dalam pementasan drama gong Bali dapat dibedakan menjadi dua karakter yang dimana ada karakter keras mencirikan sifat manusia yang angkuh, sombong, sok tahu dan galak. Ada juga karakter lembut berbanding terbalik pada karakter keras, karakter lembut lebih menonjolkan sifat manusia yang baik hati, penuh empati, cerdas, dan tidak sombong. Kedua karakter ini mensimbolkan dualitas yang berbeda atau disebut dengan rwa bhineda  sifat yang tidak bisa terpisahkan di dalam sifat-sifat manusia pada umumnya.

Teori estetika humor yang terkandung dalam punakawan buduh terbagi menjadi tiga bagian yang pertama teori superioritas, yang kedua teori ketidak sesuaian dan yang ketiga teori pembebasan ketegangan. Namun pada saat pementasan para tokoh punakawan buduh tanpa disadari dalam menyampaikan bahan lelucon sudah menggunakan ketiga teori tersebut. Karena pada umumnya para tokoh punakawan buduh lebih sering mempratekan di atas panggung tanpa mengetahui teori humor yang di gunakannya, namun setiap bahan-bahan lelucon tersebut sudah mengandung teori humor tersebut sesuai dengan situasi yang terjadi pada saat pementasan drama gong Bali .

Referensi

Bastomi, S. (1981/1982). Landasan Berapresiasi Seni Rupa. Semarang: Proyek Peningkatan Perguruan Tinggi IKIP Semarang.
Bandem, I Made dan Fradarik Eugene de Boer. 2004. Kaja dan kelod, Tarian Bali dalam transisi. Yogyakarta: Badan Penerbit Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.
Bandem, I Made dan Murgiyanto, Sal. 1996. Teater Daerah Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.
Bandem, I Made. 1996. Evolusi Tari Bali. Yogyakarta: Kanisius.
Bandem, I Made dan Rembang, I Nyoman. 1976. Perkembangan Topeng Bali Dan sebagai Seni Pertunjukan. Denpasar: Proyek Penggalian, Pembinaan, Pengembangan Seni Klasik/Tradisional dan Kesenian Baru, Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.

Balai Kajian Seni dan Desain Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Disertasi Sugita Universitas Hindu Indonesia (2016), Dinamika Seni Pertunjukan Drama Gong Di Kabupaten gianyar.

Education. Tersedia: http://www.uncg.edu/art/ courses/rwrice/360/AAprec. Htm [4 Maret 2006].

I Made Yudhabakti & I Wayan Watra. (2007). Filsafat Seni Sakral Dalam Kebudayaan Bali. Surabaya: Paramita. Cet.2015

Koentjaraningrat (1974), Kebudayaan Indonesia bersifat Universal
Mahendra & juni. (2020). Semiotika Punakawan & Hermeneutika Krsna.
Osborne, H. (1970). The Art of Appreciation. London: Oxford University Press.
Rice, R. W. (1997). Art Appreciation. (Online). In Art 360 Foundation of Art Education. Tersedia: http://www.uncg.edu/art/ courses/rwrice/360/AAprec. htm [4 Maret 2006].
Ratna (2010) penjelasan data primer dalam penelitian
Purnamawati (1984) dengan judul ”Drama Gong sebagai bentuk teater tradisional Berbahasa Bali
Rahardjo, M. (2011). Metode Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif.
Soehardjo, A. J. (2005). Pendidikan Seni, dari Konsep sampai Program. Malang: Balai Kajian Seni dan Desain Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
Sugita & Tilem (2018) karya tulis Inovasi Seni Pertunjukan Drama Gong pada Era Digital
Seramasara (2017) karya tulis Seni Pertunjukan Tradisional Bali Sebagai Warisan Zaman Bali Kuno
The Liang Gie (2004), Filsafat keindahan
Penelitian Semadi (2015) yang berjudul “keterpinggiran drama gong Wijayakusuma Abianbase Gianyar
Yaya Ruyatnasih, S.E. & Megawati, L (2018).pengantar Manajemen: teori, Fungsi dan kasus. Absolute Media
https://kumparan.com/berita-hari-ini/mengenal-punakawan-karakter-khas-pewayangan-jawa-1w1oP44xxW0
https://id.wikipedia.org/wiki/Drama_Gong
https://kbbi.web.id/seni
https://tamanbali.desa.id/
Diterbitkan
2024-11-30
Bagian
Articles

##plugins.generic.recommendByAuthor.heading##

##plugins.generic.recommendByAuthor.noMetric##