Model Kesejahteraan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Bali: Tinjauan Sistematik Nilai Budaya dan Lingkungan
Abstract
Kajian ini menyajikan Systematic Literature Review (SLR) tentang
hubungan antara kearifan lokal, kualitas lingkungan, dan
kesejahteraan berkelanjutan dengan fokus aplikasi pada konteks
Bali. Data diperoleh dari basis jurnal bereputasi (Sciencedirect)
dan dianalisis melalui kombinasi protokol SLR dan bibliometrik
menggunakan pemetaan jaringan kata kunci, klaster tematik, serta
dinamika temporal publikasi. Dari 1.393 artikel yang teridentifikasi,
428 kata kunci terpilih membentuk 10 klaster dan jaringan padat
dengan 14.624 link dan total link strength 57.257, yang
menunjukkan ekosistem riset yang sudah matang namun masih
terfragmentasi. Hasil kajian mengungkap bahwa dimensi budaya
(seperti Tri Hita Karana, Subak, dan awig‑awig), kualitas
lingkungan, dan kesejahteraan sering dikaji secara terpisah dalam
rumpun pariwisata, agrikultur, corporate social responsibility, atau
perilaku konsumen, sehingga belum menghasilkan model teoretis
terpadu yang menjelaskan pengaruh bersama ketiganya terhadap
kesejahteraan multidimensi, terutama pada level rumah tangga di
Bali. Kajian ini menawarkan kerangka konseptual integratif yang
memposisikan nilai budaya dan kualitas lingkungan sebagai pilar
bersama yang memengaruhi kesejahteraan melalui kanal modal
sosial dan kelembagaan lokal, serta mengusulkan agenda riset
lanjutan berupa pengembangan indikator operasional budaya
lokal, studi kuantitatif dan campuran, serta riset longitudinal dan
partisipatoris di komunitas adat Bali. Temuan ini diharapkan
menjadi fondasi bagi perumusan model kesejahteraan
berkelanjutan berbasis kearifan lokal yang lebih kokoh secara
teoritis, teruji secara empiris, dan relevan untuk mendukung
pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan di Bali.
References
Agyeman, J. (2013). Introducing just sustainabilities: Policy, planning, and practice. Zed Books.
Baroroh, N., & Mahmudah, S. (2025). Kearifan lokal dan resiliensi sosial-ekonomi Bali. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 20(1), 45–62.
Baroroh, U., & Mahmudah, I. (2025). Implementation of the Tri Hita Karana concept in environmentally riendly energy management: A case study of PLTS Suana, Nusa
Penida. International Journal of Multidisciplinary Studies, 12(1), 55–68.
Brundtland, G. H. (1987). Our common future. Oxford University Press.
Cole, S., & Browne, M. (2015). Tourism and water inequality in Bali: A social–ecological
systems analysis. Human Ecology, 43(3), 439–450.
Creswell, J. W. (2013). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five
approaches (3rd ed.). SAGE Publications.
Dewi, N. P., et al. (2024). Kualitas lingkungan dan keamanan ekonomi masyarakat. Jurnal
Lingkungan Hidup, 15(2), 112–130.
Dewi, Y. A. R., et al. (2024). The future of green tourism in Bali: Challenges and
opportunities. Journal of Applied Sciences in Travel and Hospitality, 7(2), 100–120.
Dwijendra, N. K. A. (2019). Proportion of customary culture in Bali and its influence on urban
space. Kawistara, 9(1), 1–14.
Dwijendra, N. K. A. (2019). Tri Hita Karana dalam arsitektur berkelanjutan Bali. Journal of
Sustainable Architecture, 7(3), 201–215.
Elkington, J. (1997). Cannibals with forks: The triple bottom line of 21st century business.
Capstone.
Grossman, G. M., & Krueger, A. B. (1995). Economic growth and the environment. Quarterly
Journal of Economics, 110(2), 353–377.
Gupta, J., & Vegelin, C. (2016). Sustainable development goals and inclusive
development. International Environmental Agreements, 16(3), 433–448.
Himawan, P., Wijaya, I. M., & Sastrawan, K. (2014). Komodifikasi budaya dalam industri
pariwisata Bali. Jurnal Antropologi Indonesia, 35(2), 67–80.
Jubaedah, S., Yuliani, T., & Santosa, B. (2019). Kerusakan ekosistem pesisir akibat pariwisata
massal di kawasan tropis. Jurnal Kelautan dan Pariwisata, 11(1), 55–70.
Keraf, A. S. (2010). Etika lingkungan hidup. PT Kompas Media Nusantara.
Kusumadewi, L., et al. (2025). Tri Hita Karana for environmental resilience: Enhancing coral
reef conservation at Mengiat Beach, Bali. Journal of Community and Sustainability
Engagement, 3(1), 45–60.
Kusumadewi, N., et al. (2025). Kearifan tradisional sebagai instrumen keberlanjutan. Jurnal
Kebudayaan Bali, 12(1), 78–95.
Millennium Ecosystem Assessment. (2005). Ecosystems and human well-being. Island Press.
Moher, D., et al. (2015). Preferred reporting items for systematic reviews and meta-analyses:
The PRISMA statement. BMJ, 339, b2535.
Mori, K., & Christodoulou, A. (2012). Review of sustainability indices and indicators: Towards a
new City Sustainability Index (CSI). Environmental Impact Assessment Review, 32(1),
94–106.
Nofriya, A., Rahman, F., & Astuti, L. (2019). Pengelolaan limbah wisata dan konservasi sumber
daya air di Bali. Jurnal Ekologi Indonesia, 10(2), 88–102.
OECD. (2012). Inclusive green growth. OECD Publishing.
Pickel-Chevalier, S. (2015). Beyond sustainability: Cultural tourism as a tool for development
and social change. Tourism Management Perspectives, 14, 45–54.
Pouw, N., & Gupta, J. (2017). Inclusive development: A multi-disciplinary
approach. International Environmental Agreements, 17, 289–306.
Prihadi, B., Suryawan, A., & Putu, D. M. (2025). Dinamika pariwisata dan kelestarian lingkungan
Bali. Jurnal Pariwisata Nusantara, 14(1), 45–62.
Raworth, K. (2012). A safe and just space for humanity: Can we live within the
doughnut? Oxfam Discussion Paper.
Raworth, K. (2017). Doughnut economics. Chelsea Green Publishing.
Rizal, A., et al. (2023). Persepsi lingkungan dan kesejahteraan psikologis pesisir Bali. Jurnal
Psikologi Lingkungan, 10(4), 289–305.
Rizal, R., Hidayat, D., & Suprayogi, B. (2023). Pengaruh kualitas lingkungan terhadap
kesejahteraan psikologis masyarakat di wilayah pesisir. Jurnal Lingkungan dan
Pembangunan, 12(1), 45–60.
Ruby, M. B. (2012). Vegetarianism: A blossoming field of study. Appetite, 58(1), 141–150.
Russi, D., ten Brink, P., et al. (2013). The economics of ecosystems and biodiversity for water
and wetlands. IEEP & Ramsar Secretariat.
Sachs, J. D. (2015). The age of sustainable development. Columbia University Press.
Sala, S., Farioli, F., & Zamagni, A. (2013). Progress in sustainability science: Lessons learnt
from current methodologies for sustainability assessment. International Journal of Life
Cycle Assessment, 18(9), 1653–1672.
Saputra, A. P., Wirawan, I. G. N., & Mahendra, G. (2024). Ekonomi simbolik pelaku budaya di
era pariwisata modern. Jurnal Ekonomi Kreatif dan Budaya, 6(3), 145–160.
Sachs, J. D. (2015). The age of sustainable development. Columbia University Press.
Setyari, N. P., et al. (2019). Model kesejahteraan berbasis Tri Hita Karana untuk kepuasan
hidup masyarakat lokal pada pembangunan pariwisata berkelanjutan. Jurnal
Kependudukan dan Pembangunan, 15(2), 89–108.
Stiglitz, J. E., Sen, A., & Fitoussi, J.-P. (2009). Report by the Commission on the Measurement
of Economic Performance and Social Progress. CMEPSP.
Subadra, I. N. (2020). Local wisdom in natural resource management in Bali: The role of awig
awig. Journal of Environmental Management and Tourism, 11(1), 143–151.
Subadra, I. P. (2020). Awig-awig dan pengelolaan sumber daya adaptif. Jurnal Antropologi
Indonesia, 41(2), 156–172.
Sugiharta, I. K. (2025). Alih fungsi lahan dan keberlanjutan sektor pariwisata di Bali. Jurnal
Ekonomi dan Pembangunan Daerah, 18(2), 101–115.
Surmini, N. W., et al. (2022). Environmental conservation through study value of Bali Aga
Tenganan Pegringsingan community culture. Media Komunikasi Geografi, 23(1), 12–25.
Suryawardani, I. G. A., & Wiranatha, A. S. (2016). Sustainable tourism through the Tri Hita
Karana concept. Journal of Sustainable Tourism in Bali, 5(1), 76–88.
Sutawa, G. K. (2012). Issues on Bali tourism development and community empowerment to
support sustainable tourism development. Procedia Economics and Finance, 4, 413
422.
Tarigan, H., Samosir, R., & Lestari, D. (2016). Tekanan pariwisata terhadap daya dukung
lingkungan di destinasi wisata tropis. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan, 7(3), 120
135.
United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 agenda for sustainable development.
Utama, I. G. B. R., Mulyani, P. D., & Sukmawati, N. P. (2024). Perubahan struktur ekonomi
rumah tangga akibat pariwisata di Bali. Jurnal Sosial dan Budaya Tropis, 9(4), 211–227.
Van Eck, N. J., & Waltman, L. (2010). Software survey: VOSviewer, a computer program for
bibliometric mapping. Scientometrics, 84(2), 523–538.
Van Eck, N. J., & Waltman, L. (2017). Citation-based clustering of publications using
CitNetExplorer and VOSviewer. Scientometrics, 111(2), 1053–1070.
Van Eck, N. J., & Waltman, L. (2022). VOSviewer manual (Version 1.6.19).
Vanhonacker, F., Van Loo, E. J., Gellynck, X., & Verbeke, W. (2013). Flemish consumer
attitudes towards more sustainable food choices. Appetite, 62, 7–16.
WBGU. (2014). World in transition: A social contract for sustainability. WBGU.
WCED. (1987). Our common future. World Commission on Environment and Development.
Widyastuti, N., et al. (2023). Pariwisata berbasis heritage Bali. Jurnal Pariwisata Berkelanjutan,
8(1), 34–50.
Widyastuti, R., et al. (2023). Local wisdom-based sustainable tourism village: A systematic
review. International Journal of Social Science, 6(3), 150–162.
Woolcock, M., & Narayan, D. (2000). Social capital: Implications for development theory,
research, and policy. World Bank Research Observer, 15(2), 225–249.
World Health Organization. (2021). The impact of the COVID-19 pandemic on non-COVID
research: A rapid assessment.
Wulandari, N. (2025). Dampak pariwisata berkelanjutan terhadap kesejahteraan rumah tangga
di Bali. Universitas Udayana Press.
Yunita, N., et al. (2025). Modal sosial dan nilai lokal Bali. Jurnal Sosiologi Pedesaan, 11(1), 23
40.
Yunita, Y., et al. (2025). Analisis peran modal sosial dalam mendorong pemberdayaan
masyarakat untuk pembangunan inklusif berkelanjutan. Jurnal Intelek dan Cendikiawan
Nusantara, 2(3), 1786.








